Best Blogger Tips

Senin, 31 Oktober 2016

Review Film : It's Ok, It's Love : Mengenal Beberapa Gangguan Mental dari Drama Korea



Annyeonghaseyo chingudeul...

bagi para penikmat drama korea terlebih yang sering membaca sinopsis-sinopsis drama di blog pastinya sudah tidak asing lagi dengan kalimat sapaan tadi dong ya.

Tapi maaf ya blog ini tidak menyediakan sinopsis-sinopsis drama korea hehe. Namun kali ini, kami akan mereview drama korea tentunya yang berhubungan dengan psikologi. Spoiler dikit gak apa-apa ya hehe.

Sejauh ini, sudah ada beberapa drama korea yang mengambil tema psikologi maupun psikiatri. Salah satunya adalah drama It’s Ok It’s Love. 

Yup, drama yang tayang tahun 2014 ini, berkisah tentang kehidupan para psikiater di sebuah rumah sakit dalam menangani pasien-pasien yang mengalami gangguan mental. Selain itu, dalam drama tersebut juga diceritakan para pemainnya yang mengidap gangguan mental. 

Selain gangguan-gangguannya, beberapa terapi psikologis juga seringkali disebut dan bahkan dipraktekkan secara langsung. Namun, disini akan dibahas beberapa gangguannya aja ya (biar otak kita gak overload :p). 

Ps: perlu diingat bahwa disini tidak self-judging tentang diagnosisnya, nama-nama gangguan tersebut memang telah disebutkan di drama maupun di sinopsisnya.


1. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)


Gangguan ini diderita oleh si pemain utama pria, si ahjussi ganteng, Jo In Sung. Jo In sung memerankan karakter seorang novelis bernama Jang Jae Yeol yang menderita OCD akibat trauma masa lalu. 

Dari OCD tersebut muncullah perilaku seperti kebiasaan tidur di bak mandinya sendiri dan halusinasi. Objek dari halusinasinya pun jelas yaitu munculnya tokoh Han Kang Woo yang merupakan manifestasi dirinya ketika remaja. 

Tentunya disini tidak akan dibahas profile Kang Woo yang diperankan oleh D.O EXO ya melainkan akan dibahas tentang OCD.

  • Apa itu Obsessive Compulsive Dissorder ?

Obsessive merupakan ide, pikiran, impuls, atau gambaran yang menetap dan menganggu. 
Sedangkan Compulsive adalah pengulangan perilaku dan memiliki tujuan tertentu yang dilakukan sebagai respon terhadap dorongan yang tidak dapat dikendalikan atau dilakukan berdasarkan suatu ritual atau seperangkat aturan yang membentuk stereotip. 

Gangguan yang dikenal sebagai OCD ini melibatkan baik komponen obsesi yang berulang dan kompulsi yang secara siginifikan mengganggu kehidupan individu sehari-hari. 


Pada umumnya, gangguan ini lazim diderita oleh orang-orang yang minder dan merasa tidak aman, kaku, mudah merasa bersalah, dan mudah merasa terancam. 

Individu dengan gangguan ini merupakan individu yang tidak fleksibel, yang tidak memperlihatkan pola pikir dan perilaku yang ekstrem. 

Misalnya dalam drama tersebut, Jae Yeol memiliki sistem klasifikasi yang kaku dalam mengatur semua buku di kamarnya dan memiliki dua kamar (di apartemennya sendiri dan rumah Hae Soo) dengan interior dan perabotan yang sama persis satu sama lain.


  • Penyebab 

Penyebab OCD ada bermacam-macam, namun diyakini yang menjadi penyebab utama adalah faktor lingkungan dan genetik. Selain itu, faktor sejarah seperti kekerasan pada saat masih anak-anak maupun peristiwa yang mempengaruhi stress juga dapat menjadi penyebab gangguan ini. 

Sedangkan dalam sudut pandang biologis, gangguan ini disebabkan oleh kadar serotonin yang berlebihan. Dalam drama ini, Jae Yeol mengalami OCD dikarenakan trauma masa lalu dimana dia mengalami siksaan sang ayah saat kecil.

Dalam keadaan yang sebenarnya, OCD yang berkembang selama masa kanak-kanak lebih kuat dipengaruhi oleh faktor genetik dimana terdapat hubungan keluarga yang lebih kuat yang memiliki gangguan mental daripada OCD yang berkembang saat dewasa. 

Teori ini terbukti dalam drama dimana ibu Jae Yeol juga ternyata mengidap gangguan disosiatif dan melakukan defence mechanism di masa lalu.


2. Sex Phobia


Ini dialami oleh pemeran utama wanita atau sang psikiater itu sendiri yang diperankan oleh aktris Gong Hyo Jin, disini dia berperan sebagai Ji Hae Soo.

Nah, jangan dikira semua psikiater atau psikolog itu normal atau sehat secara mental ya. Mereka juga terkadang memiliki atau mengalami gangguan-gangguan mental tertentu lho (malah OOT :3). 

Nah, back to topic, Hae Soo memiliki gangguan ketidakamanan dan kecemasan dalam berhubungan seksual. Dia merasakan ketakutan akan suatu komitmen selama hidupnya. 


Dalam episode awal, kita bisa melihat bahwa Hae Soo menjalin hubungan dengan pria namun tidak pernah melakukan kissing apalagi bufallo gathering (ini bahasa apaan coba :v). 

Singkat cerita, akhirnya mereka berdua putus karena si pria berselingkuh dan trauma masa lalu Hae Soo pun makin menjadi.

  • Apa itu Sex Phobia ?

Fobia dapat diartikan sebagai ketakutan pada suatu objek atau keadaan yang tidak dapat dikendalikan yang biasanya disertai dengan rasa sakit yang perlu diobati. 

Sedangkan fobia seksual atau disebut sebagai genofobia merupakan ketakutan psikologis maupun fisik terhadap hubungan seksual maupun bersenggama. 


Genofobia dapat merangsang serangan panik dan ketakutan dalam diri individu. Individu yang menderita gangguan ini menghindari keterlibatan suatu hubungan untuk menghindari kemungkinan keintiman. 

Hal ini terjadi pada Hae Soo. Namun karena dirinya adalah seorang psikiater, dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan pria di awal episode guna self-healing.

  • Penyebab 

Kebanyakan pengidap genofobia adalah mereka yang mengalami pengalaman seperti pelecehan seksual atau kejahatan seksual, namun ada pula yang mengalami gangguan ini tanpa adanya alasan diagnosis yang jelas. 

Dalam drama ini, Hae Soo mengalami fobia terhadap seks dikarenakan suatu insiden dimana dia melihat ibunya berselingkuh ketika dia masih anak-anak. Dari situlah dia selalu teringat perselingkuhan ibunya ketika teringat seks sehingga selalu menghindari hal tersebut hingga dewasa. 

Dalam drama ini, diperlihatkan bahwa Hae Soo mendapatkan beberapa kali konseling dari seniornya yaitu Jo Dong Min. Selain itu, dukungan dari sang kekasih, Jae Yeol, juga turut membantu dalam penyembuhan fobia yang dialaminya ini.


3. Tourette Disorder 


Kesan pertama waktu lihat si Lee Kwang Soo memerankan tokoh Park Soo Kwang yang mengidap tourette disorder adalah dia cocok banget memerankan tokoh ini, gak jauh beda sama karakter aslinya yang konyol hehe. So appreciated. Walaupun sudah pernah ngelihat orang yang mengalami gangguan ini secara langsung, tapi agak sedikit kaget waktu lihat pertama kali penyakit Soo Kwang ini kumat. Yaa walaupun tetap pengin ketawa sih :D


  • Apa itu Tourette Disorder ?

Pernah mendengar istilah “Tic” ?. Yup, gangguan ini sebenarnya merupakan gangguan campuran Tic. Gangguan ini termasuk dalam gangguan perilaku dan emosional. 

Tic adalah suatu gerakan motorik (yang lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu) yang tidak dibawah pengendalian, berlangsung cepat, dan berulang-ulang, tidak berirama, ataupun suatu hasil vokal yang timbul mendadak dan tidak ada tujuan yang nyata. 

Sedangkan dalam PPDGJ, istilah tourette disebut Sindrom de la Tourette atau gangguan campuran tic motorik dan vokal multipel. 

Tic vokal sering bersifat multipel dengan letupan vokalisasi yang berulang-ulang seperti suara mendehem, bunyi ngorok, dan ada kalanya diucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat cabul. 

Nah di drama itu si Kwang Soo (kalau tidak salah) tidak mengatakan kata-kata cabul tetapi sering mengucapkan kata-kata kasar. Namun dalam gangguan ini, perilaku dan bahkan kata-kata kasar tidak ada artinya karena gangguan ini terjadi diluar kendali. 

  • Penyebab 

Dalam riwayatnya, tic tidak harus timbul serentak dan gangguannya pun hilang timbul. Gangguan ini muncul tanpa alasan dan terjadi tanpa tanda seperti bersin, ini secara resmi dikenal sebagai “episode”. Gangguannya pun sering memburuk pada usia remaja dan lazim pula menetap sampai usia dewasa. 

Gangguan ini berhenti saat si penderita tertidur dan bertambah parah ketika stress. Makanya di drama tersebut diceritakan bahwa gangguan ini perlahan-lahan berkurang dan sembuh ketika Kwang Soo memiliki kekasih. So, memiliki kekasih pun ternyata dapat menghasilkan hormon yang dapat memunculkan perasaan bahagia dan mengurangi stress lho sehingga tic pun dapat hilang. 

Ohya, jangan lupakan juga jasa psikiater Jo Dong Min yang selalu membantu menenangkan Soo Kwang ketika serangan panik melandanya. Psikiater yang juga sedikit banyaknya membantu kesembuhan Hae Soo ini juga memberikan beberapa terapi kepada Soo Kwang seperti terapi perilaku dan kognitif. 



=====================================================================

Nah itu dia beberapa gangguan mental yang bisa kita temukan di dalam drama ini. Selain dialami para pemeran utamanya, kita bisa menemukan gangguan-gangguan lain baik pada pemeran pendukungnya maupun cameo nya seperti pasien-pasien Hae Soo. Monggo ditonton sendiri ya biar puas. 

Tentunya bukan hanya drama ini yang bertemakan psikologi namun beberapa drama korea juga bisa dijadikan referensi tontonan anak psikologi yang ingin mencari hiburan sekaligus belajar. Mungkin bisa dibahas lagi lain kali yes.

Oh ya, waktu drama ini tayang, beberapa cowok di kampus kami yang awalnya hanya ngegame COC, main PS, dan nonton bola, sekarang mengikuti drama korea berkat menonton drama ini lho :D. 

Karena memang drama ini cocok menjadi referensi tontonan bagi para mahasiswa psikologi mengingat banyak pelajaran yang dapat diambil. Jadi kita tidak hanya mendapat kesenangan dari para pemainnya yang good-looking aja namun juga sekaligus belajar dong ya. 

Happy watching!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar